Fakta, Makan Cepat Bisa Bikin Gemuk dan Datangkan Masalah Jantung

2017 Dec 13

image007

Ada banyak alasan kenapa orang-orang memilih makan dengan sangat cepat, salah satunya karena pekerjaan yang menumpuk hingga buru-buru karena terlambat bangun. Padahal, makan harus dilakukan secara perlahan agar makanan yang masuk ke dalam perut sudah benar-benar halus.

Dilansir dalam shape.com, pilihan makan dengan sangat cepat ternyata tidak hanya berisiko menyebabkan obesitas dan masalah lambung, sebuah penelitian terbaru menyebut jika makan tergesa-gesa bisa menyebabkan masalah jantung.

Kesimpulan ini tertuang dalam hasil sebuah penelitian yang dipresentasikan dalam sesi ilmiah American Heart Association di California, Amerika.

Dalam penelitian ini, tim peneliti asal Jepang meneliti sebanyak 1.000 orang relawan selama 5 tahun terkahir. Selama penelitian, para relawan diuji sebanyak dua kali, yakni di awal penelitian (tahun 2008) dan menjelang penelitian akhir penelitian (tahun 2013).

Selain itu, para relawan pun diminta untuk mengisi survei tentang pola makan mereka, olahraga yang dilakukan, dan riwayat kesehatan yang mereka miliki, terutama masalah kesehatan yang berkaitan dengan jantung, hipertensi dan lainnya.

Mereka kemudian dibagi dalam 3 kriteria berdasarkan kecepatan makan, yakni kelompok pertama yang diminta makan dengan kecepatan lambat, normal, hingga sangat cepat.

Hasilnya, para relawan yang makan dengan cepat cenderung mengalami kenaikan berat badan yang lebih tinggi ketimbang kelompok lainnya. Selain itu, mereka pun cenderung memiliki kadar gula dan kolesterol jahat yang lebih tinggi.

Selain itu, orang yang makan cepat pun 2 kali lebih mungkin membangun sindrom metabolik (yang berkaitan dengan risiko hipertensi, obesitas, masalah jantung, diabetes dan stroke) ketimbang mereka yang makan dalam kecepatan normal.

Dalam keterangannya, ketua tim peneliti dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, Takayuki Yamaji, menyebut jika perbedaan tingkat risiko kesehatan tersebut berkaitan dengan aktivitas makan cepat yang menyebabkan fluktuasi gula darah hingga menyebabkan resistensi insulin.

Lebih lanjut lagi, Yamaji menyebut jika jika penelitian ini semakin menguatkan bukti jika makan harus dilakukan secara perlahan dan makanan pun harus dikunyah hingga lembut sebelum akhirnya ditelan dan masuk ke dalam sistem pencernaan.

Sementara menurut Kathleen Melanson dari University of Rhode Island, berpendapat jika mengunyah makanan hingga lembut efektif untuk membantu tubuh melepaskan sinyal kenyang ke otak, hingga perut pun akan merasa cepat kenyang.

Comment